|
MGR. IGNATIUS HARSONO Pr. (Alm.)Pada suatu hari, 76 tahun yang lalu, di sebuah tempat di daerah Delanggu wilayah Kabupaten Klaten, 4 anak kecil mendapat cobaan Tuhan yang terberat: kehilangan ayah. Tentu saja keempat bocah itu belum mengerti sepenuhnya akan kejadian yang sedang berlangsung. Oleh karena ayah sudah tiada, maka seorang paman yang baik hati berkenan "memboyong" anak-anak tanpa ayah itu ke tempat lain, ke sebuah desa disebelah selatan Yogyakarta bernama Ganjuran, dan disanalah keempat anak itu hidup di sela kehijauan pepohonan dan kuningnya padi di sawah. Yang tertua diantara anak-anak bernama HARSONO, lengkapnya IGNATIUS HARSONO, bertubuh cukup tegap, berkulit coklat kehitaman, dengan tiga adik-adik, seorang laki-laki dan dua lainnya perempuan. Lima puluh tahun kemudian, tepatnya tanggal 8 Mei 1975, anak yang bernama IGNATIUS HARSONO itu ditahbiskan menjadi USKUP BOGOR, menjadi gambala umat Katolik Keuskupan Bogor. Tentu saja, perjalanan hidup dari seorang bocah yang hampir tidak mengenal wajah ayahnya sendiri sampai kepada memangku jabatan Uskup, bagi HARSONO bukanlah perjalanan yang singkat. Perjalanan itu panjang, melalui berbagai keadaan. Berbagai kemelut, berbagai romantika. Memang, pemuda Harsono tumbuh dalam berbagai kemelut zaman dan keadaan.
Menempa Pengalaman HidupHarsono, putra pertama dari Bapak Troeno-sastrojo itu, setelah ayahandanya meninggal, ikut pamannya bernama Bapak Soemaatmadja di desa Ganjuran. Di rumah pamannya sampai menjelang usia sekolah. Setelah tiba saat sekolah, Harsono pindah ke paman yang lain bernama Bapak Djajasuhardja di Klaten. Di Klaten itu Harsono memasuki sekolah H.I.S. (Holland Inlandse School) sampai tamat. Setamat H.I.S. ia pindah lagi turut pamannya Bapak Soemaatmadja di Ganjuran. Setelah tamat H.I.S. itu Harsono sudah bercita-cita untuk memasuki pendidikan calon Imam (Seminari). Tetapi sang paman menganjurkan agar ia sekolah umum dahulu. Hal itu bukannya tanpa alasan. Sang paman mendasarkan alasan bahwa sekolah Seminari itu bukannya gam-pang. Jadi Pastor tidaklah mudah. Bisa kandas di tengah jalan. Nah, apa salahnya kalau sebelum masuk Seminari sekolah umum dahulu - misalnya sekolah Guru, nanti kalau sewaktu gagal jadi Pastor, mempunyai bekal pekerjaan tetap. Jadilah Harsono sekolah pendidikan Guru (H.I.K). Setelah tamat jadilah ia Guru. Mula-mula mengajar di Yogya, kemudian Klaten lalu Ganjuran. Pada waktu pendudukan Jepang, banyak sekolah ditutup, termasuk juga Sekolah Seminari. Tamatlah gambaran bagi Harsono untuk masuk jadi calon Imam. Mendekat hari-hari berakhirnya pendudukan Jepang, Harsono berkenalan dengan seorang Biarawati dari kelompok wanita dari Nazaret bernama Sister Smith. Dialah yang mendorong Harsono untuk menumbuhkan lagi cita-cita menjadi imam. Tergugah kembali cita-cita lama untuk menjadi imam. Waktu itu tahun 1948 mulailah pemuda Harsono memasuki Seminari di Yogyakarta sampai tamat tahun 1951. Sayang, bahwa karena kesehatan (tahun 1951) pemuda Harsono tidak dapat melanjutkan pelajarannya ke Seminari Agung. Tak apa. Setahun mengaso. Bekerja pada Yayasan Kanisius Pusat di Semarang. Tahun berikutnya 1952 merupakan "tahun terang", karena tahun itu pemuda Harsono diterima sebagai mahasiswa Seminari Agung di Cicurug. Di situ terkumpul "calon-calon Imam" seperti Benedictus Tantua, Felix Bos, Stepanus Sutojo. Pada tanggal 6 Januari 1958 ia ditahbiskan menjadi Imam oleh Mgr. Enrici di Cicurug.
Sebagai Imam MudaPastor Harsono mula-mula bertugas di Sukabumi membantu sebagai guru di S.G.A. (SPG) dan mengurus pemeliharaan rohani umat katolik di pertambangan Cikotok. Pada tahun 1959 mendapat kesempatan memperdalam pengetahuan di Eropa. Pastor Harsono mengambil pelajaran di Universitas Leuven di Belgia. Jurusan yang diambil adalah Sosial Politik. Akhir tahun 1964 tamat dari Leuven dengan predikat "pujian". Akan segera kembali bertugas ke tanah air, waktu itu sedang kemelut PKI, sehingga kepulangannya tertunda. Baru pada tahun 1966 dapat kembali ke tanah air dan memulai tugas-tugas baru. Ternyata jangkauan tugasnya tidak saja di kota Bogor atau Bandung. Tetapi meliputi berbagai kota. Bandung, Cianjur dan Bogor. Misalnya di Cianjur, Pastor Harsono membantu Pastor setempat dan bahkan mendirikan SMEA "Mardi Yuana". Di Cipanas membantu Pastor Ismail dan kemudian membantu Pastor V.d. Laan. Pada tahun 1968, Uskup Bogor Mgr. Dr. N. Geise mengangkat Pastor Harsono menjadi Vikaris Episkopalis. Pada tahun 1973 diangkat menjadi Vikaris Jendral Keuskupan Bogor. Ketika tahun 1968 di Keuskupan Bogor didirikan Seminari Tinggi untuk calon-calon Romo Projo di Bandung, Pastor Harsono diangkat sebagai Rektornya. Sekali lagi Pastor Harsono berkesempatan ke luar negeri. Walaupun namanya "cuti" tetapi "cuti" dimanfaatkan untuk memperdalam pengetahuan di Univer-sitas Leuven, dalam mengikuti studi tentang negara-negara berkembang pada Universitas Leuven tersebut. Beliau mendapat Diploma khusus dan predikatnyapun meyakinkan: Cum Laude. Tugas beliau kiranya tidak saja dalam bidang keagamaan, melainkan lebih luas dari itu. Di Bandung, terdapat Universitas Katolik PARAHYANGAN. Di Universitas tersebut beliau menjabat selaku Dekan Fakultas Sospol, Pem-bantu Rektor Urusan Keuangan dan Kemaha-siswaan. Jabatan ini berakhir tahun 1970. Tahun berikutnya jabatannya adalah Wakil Rektor. Selain menjabat Wakil Rektor, beliau juga mengajar dalam matakuliah Sosiologi. Matakuliah ini juga diajarkan di Institut Filsafat dan Theologi yang ada di kota Kembang itu. Masih ada jabatan lain lagi: Wakil Rektor pada Institut Filsafat dan Theologi, dan juga pernah diminta untuk mengajar di SESKOAD di Bandung.
Menjadi Uskup Bogor
Pada suatu siang di bulan Pebruari 1975. Penjaga tilpon Pastoran Katedral Bogor menerima tilpon interlokal dari Jakarta. Sang penjaga manggut-manggut menerima tilpon itu, tetapi karena Pastor Harsono masih tidur siang maka laporan disampaikan ketika sorenya. Sang penjaga tilpon melaporkan kepada sang Pastor bahwa ada interlokal dari Jakarta : Soalnya baru jelas di hari berikutnya: benar-benar ada interlokal dari Jakarta, tetapi bukan Duta Kecantikan, melainkan dari Duta Vatikan. Sang telinga penjaga yang salah tangkap (mungkin udara jelek). Pastor Harsono diminta menghadap Duta Vatikan. Dan setelah itu diketahuilah persoalannya: bahwa Paus di Roma telah mengangkat Pastor Harsono menjadi Uskup Bogor menggantikan Uskup Mgr. N. Geise yang memang sudah beberapa waktu mengajukan permohonan untuk mengundurkan diri. Penetapan Paus bertanggal: Roma 1 Maret 1975, S.C. "de Propaganda Fide" Prot. Num 1092/75, Bulla pengangkatan "Verba Nobiscum sedule". Telah banyak karya yang disumbangkan oleh Mgr. Ign. Harsono sebagai Uskup Bogor. Beberapa hal yang patut dicatat antara lain: hasil tahun penyadaran, Buku Anggaran Dewan Paroki Keuskupan Bogor, pembentukan Kera-sulan Marriage Encounter dan Persekutuan Doa Karismatik Katolik, adanya UNIO, wadah untuk para imam Projo, pengesahan Statuta Regio Jawa (15 Juli 1988), menjadi tuan rumah pertemuan Uskup-uskup se Asia (1989), membuka Balai Latihan Ketrampilan sebagai pengganti sekolah pendidikan guru Mardi Yuana Sukabumi (1989).
Pada bulan Juli 1993, karena alasan kesehatan, Mgr. Ign. Harsono Pr mengundurkan diri. Sambil menunggu pengangkatan Uskup baru, Tahta Suci di Roma menunjuk Mgr. Leo Soekoto SJ menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Bogor.
|
![]() |
|