|
PESAN NATAL BERSAMA
PERSEKUTUAN GERE7A-GERE7A DI INDONESIA
DAN
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA
TAHUN 2006

"DIALAH DAMAI SE7AHTERA
YANG TELAH MEMPERSATUKAN"
(bdk. Ef. 2:14)
Kepada segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada, salam
sejahtera dalam Kasih Tuhan kita Yesus Kristus.
Dengan penuh sukacita dan rasa syukur kita menyambut Natal, kelahiran
Penebus dan Juru Selamat dunia.
1. Tantangan untuk Hidup Damai
Di tengah sukacita Natal ini, kita menyadari
bahwa suasana kehidupan kita akhir-akhir ini diwarnai oleh berbagai
kekhawatiran dan ketakutan. Kenyataan hidup sosial politik tetap hangat,
beban ekonomi terasa semakin berat, sementara bencana alam dan wabah
penyakit melanda berbagai wilayah. Kebebasan hidup beragama mengalami
banyak hambatan dan ada usaha adu domba antarumat beragama. Sementara itu,
krisis kepercayaan antara penguasa dan rakyat, antara pemerintah pusat dan
pemerintah daerah, dan antara satu kelompok dengan kelompok lain mengancam
kehidupan bersama.
Bangsa ini belum sepenuhnya bersatu. Berbagai perbedaan seringkali tidak
dipandang sebagai kekayaan tetapi justru sebagai alasan untuk memisahkan
diri satu dari yang lain. Akibatnya, perbedaan seringkali berakhir dengan
pertentangan dan perpecahan. Kita semua merindukan kehidupan bersama yang
penuh damai sejahtera dan damai sejahtera ini hanya dapat terwujud bila
seluruh warga bangsa bersatu.
2. Kristus, Damai Sejahtera Kita
Kenyataan yang kita hadapi ini memang berat
namun tidak boleh membuat kita kehilangan harapan. Kelahiran Yesus
mendatangkan sukacita besar. Sukacita itu melekat dalam diri setiap orang
beriman yang mampu menghayati hakikat dan makna kelahiran Yesus. la lahir
sebagai manusia, menjadi senasib dengan manusia, dan terbuka menyambut
semua orang yang datang kepada-Nya. la hadir di dunia untuk mewujudkan
kasih Allah kepada manusia (1Yoh. 4:9). Kasih Allah itu berpuncak pada
kayu salib ketika Yesus menyerahkan nyawa untuk menanggung dosa seluruh
umat manusia.
Kepada Jemaat Efesus, yang dilanda bahaya perpecahan dan sedang berupaya
keras untuk memelihara keutuhan jemaat, Paulus menunjukkan bahwa Yesus
adalah damai sejahtera yang telah mempersatukan berbagai pihak yang
berbeda (bdk. Ef. 2:14). Peran dan hakikat Yesus Kristus sebagai damai
sejahtera diwujudkan secara nyata dalam karya penebusan-Nya. Dalam kurban
salib-Nya la menumpahkan darah bukan hanya untuk sekelompok orang
melainkan untuk seluruh umat manusia. Hal ini dengan jelas menunjukkan
bahwa Kristus mengasihi semua manusia tanpa membeda-bedakan. Dengan
demikian, Ia mempersatukan semua orang di dalam diri-Nya agar mereka dapat
hidup bersama dalam damai sejahtera.
Dalam hubungan dengan sesama baiklah kita
memandang setiap orang dalam iman kepada Kristus. Dengan menyadari bahwa
darah Kristus juga tercurah untuk mereka, maka setiap orang yang mengaku
diri sebagai pengikut dan murid Kristus akan mengasihi orang itu, walaupun
dalam kenyataannya orang itu bersikap seperti musuh. Kasih dan pengurbanan
Kristus untuk semua orang itulah yang hendaknya menjadi dasar hubungan
dengan sesama, dan bukan balasan yang akan diperoleh dari mengasihi sesama.
Bila kasih Kristus yang menjadi dasar kasih terhadap sesama, orang tidak
akan patah semangat, menutup diri,dan berhenti mengasihi karena merasa
bahwa kasihnya tidak mendapat tanggapan dan tidak menghasilkan buah
seperti yang diharapkan.
3. Ajakan untuk
Mewujudkan Hidup Damai
Penegasan Kitab Suci bahwa Yesus Kristus
adalah Damai Sejahtera yang telah merubuhkan tembok-tembok pemisah
memberikan pencerahan dan kekuatan baru bagi kita. Oleh sebab itu, marilah
kita merayakan Natal dengan penuh syukur sambil berusaha menghayati
panggilan untuk mewujudkan hal-hal berikut:
-
merubuhkan tembok-tembok
pemisah yang selama ini menyebabkan adanya sikap terlalu mementingkan diri
atau kelompok.
-
menghayati kehidupan
gerejawi yang lebih terbuka dan bersahabat sebagai sumbangan nyata bagi
terwujudnya Indonesia baru yang berkeadaban.
-
mengungkapkan kebenaran
tanpa takut dan gentar, memperjuangkan kehidupan yang adil, damai, dan
sejahtera, menghargai Hak Asasi Manusia, dan menegakkan hukum yang
berkeadilan.
-
mengupayakan terus
penggalangan hubungan dan kerjasama dengan seluruh warga bangsa, dengan
tetap menghargai kemajemukan, kekayaan budaya bangsa, dan senantiasa
bertekun dalam mempertahankan dasar Negara Pancasila.
-
memperjuangkan
kesejahteraan ekonomi bersama karena tidak ada damai selama tidak ada
perbaikan ekonomi clan selama sebagian besar warga bangsa ini hidup dalam
belenggu kemiskinan.
Di tengah situasi negeri
kita sekarang ini janganlah kita menyerah pada kesulitan dan penderitaan.
Kita perlu tetap mewujudkan sikap yang tulus dan setia dalam menjalin
kerukunan dengan semua orang. Dan dalam suasana Natal ini baiklah kita
mengingat dan mengambil teladan dari Yusuf, suami Maria, yang beriman
dengan sederhana dan terbuka, senantiasa taat kepada panggilan Ilahi, juga
ketika berhadapan dengan kehendak Allah yang berada di luar pengertiannya.
Ia peka terhadap suara Tuhan dan dengan kepercayaannya ia menyelesaikan
banyak hal tanpa banyak kata (bdk. Luk. 2:1-7; Mat. 1:18-2:23).
SELAMAT NATAL 2006
DAN
TAHUN BARU 2007
Jakarta, Medio November 2006
Majelis Pekerja
Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia
Pdt. Dr. A. A. Yewangoe
Ketua Umum
Konferensi Waligereja Indonesia
Mgr. Martinus D. Situmorang, O.F M.Cap.
Ketua
Pdt. Dr. Richard M. Daulay
Sekretaris Umum
Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, M.S.F.
Sekretaris Jenderal
|