SURAT GEMBALA PRAPASKAH
TAHUN 2004
KEUSKUPAN BOGOR
Kepada seluruh Umat Keuskupan Bogor,
Salam dan Berkat Apostolik,
Saudara-saudari umat Keuskupan Bogor yang dikasihi Tuhan,
Setiap tahun kita merayakan masa puasa sebagai persiapan Paskah, hari kebangkitan Yesus. Masa puasa dibuka dengan pemberitan tanda abu di kepala sebagai tanda kerapuhan manusia dan ungkapan tobat. Masa puasa mengingatkan kita pula pada misteri Kristus, yang "dibawa oleh Roh Kudus" ke padang gurun (Lk 4:1). Yesus tinggal di padang gurun selama 40 hari dan 40 malam, tanpa makan dan minum, dalam doa dan puasa. Dengan pengalaman yang unik itu, Yesus memberikan kesaksian mengenai penyerahan diri-Nya secara utuh kepada kehendak Bapa. Tindakan Yesus itu juga sebagai landasan dan persiapan akan tugas berat yang menanti-Nya, yaitu menyelamatkan umat manusia melalui salib dan kebangkitan.
Gereja juga dibawa ke "padang gurun" untuk bersama Yesus mengalami kerapuhannya dan bersamaan dengan itu juga mengalami kasih dan kerahiman Allah yang menyelamatkan. Gereja memberikan waktu penyelamatan ini kepada kita, seluruh kaum beriman, agar kita berupaya sedapat mungkin untuk memperbarui diri secara batin, dan mengungkapkan pembaruan itu dalam sikap saling mengasihi dan saling berbagi, dalam kata dan perbuatan nyata. Sesungguhnya masa puasa itu merupakan suatu perjalanan pertobatan dalam Roh Kudus untuk "menemukan Allah" dalam hidup kita sendiri.
Padang gurun itu bukanlah tempat yang baik dan nyaman. Padang gurun itu mengisyaratkan kekeringan, kegersangan, kematian, hidup penuh perjuangan dan tantangan. Di padang gurun itu, hidup sepenuhnya bergantung kepada Allah dan kebaikan-Nya. Bagi kita, memasuki masa puasa itu seperti memasuki padang gurun, suatu pengembaraan yang penuh tantangan dan ketidak-pastian. Di dalam pengembaraan itu kita akan berjumpa dengan diri kita yang tidak layak, penuh kekurangan. Kita juga akan berjumpa dengan sesama yang membutuhkan kepedulian kita serta menantikan dengan rindu uluran tangan kita.
Saudara-saudari umat Keuskupan Bogor yang dikasihi Tuhan,
Dalam peziarahan rohani Masa Prapaskah tahun-tahun terakhir, Gereja menawarkan kepada kita tema-tema renungan yang berkesinambungan, sesuai dengan situasi-nyata "padang gurun" bangsa kita, dan mengajak kita untuk menghadapinya dengan iman yang teguh.
Bangsa dan negara kita mengalami kemerosotan di segala bidang, terutama kemerosotan akhlak, tumpulnya hati nurani, dan terganggunya komunikasi; Kemelaratan, pelanggaran hak azasi, kekerasan dan kerusuhan merupakan menu pokok pemberitaah media massa setiap hari. Bangsa kita terjerumus dalam berbagai konflik, seperti konflik kepentingan, politik, suku, agama, ekonomi, sosial, dan lain lain.
Aksi Puasa Pembangunan tahun 2004 ini mengajak kita untuk merenungkan tema: "Dengan Persaudaraan Sejati, Mengolah Konflik untuk Kesejahteraan Semua". Intinya, kita diajak untuk kembali ke basis, menghadapi konflik secara bersama, dan mencari pemecahan bersama pula. Tujuan kita adalah agar tercipta suatu kondisi, di mana semua orang dapat menjalani hidupnya secara lebih bermakna, dalam damai, ketenangan, dan kesejahteraan lahir batin.
Dalam Sinode Keuskupan Bogor tahun 2002 yang lalu, kita telah mengambil tekat untuk membangun Keuskupan Bogor ini menjadi "communio communitarum" berdasarkan "persaudaraan sejati" yang sejak lama kita idam-idamkan. Persaudaraan sejati merupakan warisan bangsa kita yang berciri kekeluargaan. Tema itu diangkat pula oleh Gereja Indonesia sebagai dasar membangun komunitas basis menuju Indonesia Baru, atau Indonesia yang lebih baik (SAGKI 2000).
Kita mencita-citakan Keuskupan Bogor menjadi "communio" yang beriman mendalam, solider dan dialogal, memasyarakat dan misioner. Guna mewujudkan cita-cita yang luhur itu, kita harus menjadi pengikut Kristus yang setia, menjadi anak-anak yang patuh pada Bapa di Surga, menjadi manusia Kristiani yang sejati. Azas kekeluargaan dan kasih persaudaraan seperti yang ditunjukkan oleh Jemaat Perdana di Yerusalem menjadi acuan kita. Budaya Sunda dan Banten mengajak kita warganya untuk silih-asih, silih asah, dan silih asuh. Dalam persekutuan yang berlandaskan persaudaraan itu, kita bangun dialog, komunikasi, dan kerja sama dengan semua orang, tanpa membeda-bedakan. Inilah obat mujarab untuk mengolah dan mengobati penyakit konflik di masyarakat kita.
Renungan APP tahun 2004 ini mengajak kita untuk "mengolah konflik", mencari akar masalahnya, dan juga pemecahannya. Namun hal itu tidak mudah. Konflik berakar dalam hati manusia. Kita tengah menghadapi hancurnya peradaban. Kita tengah menghadapi masalah ekonomi, agama, hukum, kebudayaan, pendidikan, dan kerusakan lingkungan hidup (ekologi). Kita perlu merenungkan pula, jangan-jangan kita ikut bermain dalam menciptakan konflik dan keterpurukan tersebut di atas? Untuk mengatasinya, kita harus kembali kepada Sabda Yesus, "Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memanggul salibnya dan mengikuti Aku (Mk 8:34)"; Bahkan lebih dari itu, ia harus mengasihi musuhnya (Lk 6:27-36), peduli dan memiliki kesetiakawanan ilahi kepada orang yang berdosa (Lk 5:32).
Puasa, mati raga, dan amal bakti kita hendaknya menjadi sarana untuk membangun hidup rohani guna membendung pengaruh dunia yang dapat membawa kebinasaan. Dengan indah Rasul Paulus mengajak kita, "matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan juga keserakahan…karena kamu telah menanggalkan manusia lama… dan telah mengenakan manusia baru; Sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (bdk. Kol 3:15-17). Betapa menantangnya Firman itu, dan betapa bahagianya mereka yang berani melaksanakannya.
Masa Prapaskah selama 40 hari ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya dengan:
meningkatkan doa, ikut serta dalam renungan-renungan
lingkungan, mengikuti jalan salib di gereja paroki. Selama masa puasa ini
biasakan diri untuk membaca kitab suci, merenungkan sengsara Tuhan. Jadikanlah
keluarga kita sebagai tempat berdoa yang baik, di mana orang tua dan anak-anak
berdoa bersama pada waktu yang tepat.
Pertobatan yang kita lakukan harus juga mengarah pada usaha
untuk membina hubungan yang baik dengan semua orang, menghindari konflik, saling
menghormati dan menghargai perbedaan dan keanekaragaman.
Menjadikan masa prapaskah sebagai saat yang tepat untuk beramal, menyisihkan sedikit atau banyak dari milik kita untuk membantu mereka yang miskin dan berkekurangan. Nasehat Nabi Yesaya patut kita renungkan, "Puasa yang kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu kelaliman dan melepaskan tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang-orang teraniaya…, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar, dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan orang telanjang supaya engkau memberi dia pakaian…(bdk. Yes 58:6-7)".
Selama masa prapaskah ini akan diedarkan amplop derma untuk membantu sesama melalui kegiatan seksi-seksi sosial paroki. Kita juga ingat akan kebutuhan Gereja Universal, terutama saudara-saudara yang menderita di Tanah Suci. Berilah dengan rela hati, bukan karena terpaksa.
Saudara-saudari umat Keuskupan Bogor yang dikasihi Tuhan,
Marilah kita menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyambut kebangkitan Tuhan. Saya juga mengajak seluruh umat agar mendoakan bangsa dan negara Indonesia yang sedang menghadapi banyak permasalahan. Kita berdoa pula agar Pemilu 2004 ini berlangsung dengan tenang dan aman, sehingga seluruh rakyat dapat memilih wakil-wakilnya dan Pemimpin Negara yang dikehendaki Tuhan sendiri. Akhirnya, semoga Tuhan menyertai Anda sekalian dalam menyiapkan diri menyongsong hari kemenangan Kristus atas maut, yang merupakan hari kemenangan kita semua.
Diberikan di Bogor, 2 Februari 2004
Pada Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah
Mgr. Michael C. Angkur, OFM
Uskup Bogor
KETENTUAN PUASA DAN PANTANG
1. Ketentuan
Sesuai dengan Kitab Hukum Kanonik, kanon 1249 bahwa semua umat beriman Kristiani menurut caranya masing-masing wajib melakukan tobat demi hukum ilahi. Akan tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, maka ditentukanlah hari-hari tobat, di mana orang-orang beriman Kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa, menjalankan ibadat dan melakukan amal kasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang seturut norma-norma kanonik kanon 1250-1253.
2. Petunjuk
Hari Tobat secara khusus dilangsungkan pada Masa Prapaskah. Tahun 2004 ini berlangsung mulai tanggal 25 Februari sampai dengan 11 April 2004.
3. Cara untuk Mewujudkan Pertobatan
3.1. Doa
Selama masa Prapaskah hendaknya menjadi hari-hari istimewa untuk meningkatkan semangat berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan, dengan tekun mendengarkan dan merenungkan Sabda-Nya serta melaksanakannya dengan setia.
3.2. Karya Amal Kasih
Pantang dan puasa yang kita lakukan selayaknya mampu mengarahkan diri kita kepada perbuatan amal kasih, artinya bersolider dengan semua orang, lebih-lebih dengan mereka yang hidupnya berkekurangan, menderita dan berada dalam ketidak-beruntungan. Untuk itu sangat dianjurkan melakukan aksi nyata dengan tujuan membantu dan meringankan beban, kesulitan dan penderitaan mereka.
3.3. Penyangkalan Diri
Sesungguhnya pantang dan puasa yang kita lakukan merupakan suatu usaha dan kesediaan untuk meneladani Kristus serta berani menderita bersama-Nya demi kebahagiaan sesama. Rasul Paulus mengajak kita untuk berani "mati bersama Kristus" (Kol 2,20). Dengan berpantang dan berpuasa, kita mengatur kembali pola hidup dan tingkah laku sehari-hari agar lebih baik. Pantang dan puasa lahiriah saja tidak cukup. Kita diharapkan, melalui pantang dan puasa tahun 2003 ini dapat mengeratkan persaudaraan antara kita, membina kerukunan dan meningkatkan kesatuan kita, sehingga hidup kita mencerminkan kesatuan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Sebagaimana terungkap dalam doa Yesus: "Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku" (Yoh 17,21).
4. Ada Dua Hari Wajib Puasa
Pada hari Rabu Abu, 25 Februari dan hari Jumat Agung, 9 April 2004.
5. Ada Delapan Hari Wajib Pantang
Pada hari Rabu Abu dan tujuh hari Jumat selama masa Prapaskah, termasuk Jumat Agung.
6. Yang Wajib Puasa
Semua umat Katolik yang sudah genap usia 18 tahun sampai 60 tahun. Berpuasa, artinya pada hari wajib puasa, makan kenyang tidak lebih dari satu kali dalam sehari.
7. Yang Wajib Pantang
Semua umat Katolik yang sudah genap usia 14 tahun. Berpantang berarti tidak makan jenis makanan dan minuman tertentu. Misalnya: daging, garam, sambal, es krim, minum bir, merokok dan sebagainya yang menjadi kesukaan kita. Kecuali itu berarti juga menghindari kebiasaan buruk, misalnya: boros, iri hati, marah, menggosip, dan sebagainya serta lebih mengutamakan dan memperbanyak perbuatan baik dan terpuji.
8. Himbauan
Para orang tua hendaknya berusaha agar putra-putri mereka, yang karena usianya belum terikat wajib pantang dan puasa, dibina ke arah semangat tobat sejati. Selama masa Prapaskah, apabila akan melangsungkan perkawinan hendaknya memperhatikan masa Tobat. Dalam keadaan terpaksa seyogyanya pesta dan keramaian ditunda.