SURAT GEMBALA PRAPASKAH

Uskup Bogor 2008

 

 

Salam dan Berkat Apostolik,

 

        Umat Keuskupan Bogor yang terkasih,

Tidak lama lagi kita memasuki Masa Prapaskah atau Masa Puasa selama 40 hari sebagai persiapan untuk Hari Raya Paskah, hari kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Kita membuka Masa Puasa itu dengan suatu tindakan pertobatan bersama, yaitu dengan menaburkan abu di kepala kita sebagai tanda kerapuhan dan perendahan diri kita di hadapan Tuhan yang mahakudus dan mahaagung. Kita menyadari bahwa kita tidak setia, melakukan dosa dan kesalahan-kesalahan melawan Allah sendiri. Oleh karena itu, kita memohon pengampunan dan belaskasihan-Nya agar kita selamat dan tidak binasa. “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu dan berbaliklah kepada Tuhan. (bdk Yoel 2: 13). Seruan Nabi Yoel kepada orang-orang sebangsanya pada waktu itu masih tetap relevan bagi kita pada zaman ini, karena mengingatkan kita akan pelanggaran dan dosa yang kita lakukan terhadap Tuhan serta hukuman yang patut kita terima dari pada-Nya. Selain itu, seruan ini juga mengingatkan kita akan kenyataan  bahwa kita sering kurang setia pada-Nya. Kita masih sering tenggelam dalam kebiasaan-kebiasaan yang tidak berkenan kepada-Nya dan kepada sesama kita.

 Selama Masa Puasa ini kita diundang untuk lebih sungguh-sungguh menghayati iman kita dan ajaran Yesus serta mengikuti suri-tauladan-Nya. Hal itu kita lakukan dengan lebih tekun berdoa, mengendalikan diri, hawa nafsu, dan melakukan mati raga. Namun yang lebih penting adalah peduli akan sesama kita yang menderita kesusahan dan kekurangan. Tindakan berdoa, upaya kita untuk mengendalikan diri dan melakukan mati raga tersebut sebenarnya merupakan perjuangan kita dengan bantuan rahmat Tuhan untuk menghilangkan egoisme yang menguasai diri kita. Semua hal itu perlu kita lakukan untuk menyucikan diri dan memulihkan hidup ilahi  dalam diri kita.

 Semangat pertobatan dan penyangkalan diri yang mau kita wujudkan ini sesungguhnya didukung oleh doa-doa dan liturgi suci Gereja. Selama Masa Prapaskah liturgi Gereja mengajak kita untuk menjadikan Kristus sebagai pusat seluruh diri dan hidup kita. Bacaan-bacaan Kitab Suci dan doa-doa liturgis dimaksud untuk membantu kita merenungkan Kristus yang menderita sengsara, wafat dan bangkit bagi kita. Dengan bantuan bacaan-bacaan dan doa-doa tersebut kita belajar dari Yesus, Sang Guru, semangat pertobatan-Nya, penyangkalan Diri dan penderitaan-Nya demi keselamatan kita. Namun upaya pertobatan kita akan sia-sia apabila kita tidak mempersatukan semuanya dengan penderitaan Kristus dan tidak mengarahkannya pada kebangkitan kita kembali dengan Kristus yang bangkit.

 Saudara-saudari yang terkasih,

Setiap tahun kita berpuasa selama 40 hari. Dapat terjadi, bahwa puasa kita menjadi sesuatu yang rutin, lahiriah dan seremonial belaka. Bila hal itu terjadi maka kita perlu kembali kepada cara berpuasa yang baik sebagaimana dikehendaki oleh Allah sendiri. Untuk itu kita bisa belajar dari Kitab Suci. Kitab Suci penuh dengan kutipan dan ajaran tentang pertobatan dan puasa yang ditujukan kepada pemulihan dan pembaharuan hidup.

 Dalam Perjanjian Lama, dalam Kitab Nabi Yesaya misalnya, kita dapat belajar tentang meninggalkan kekerasan, membantu sesama yang sedang susah, melaksanakan amal-kasih yang konkrit. Hal itu dapat dilihat dalam Tuhan yang berfirman: “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes. 58:6-7).

 Dalam Perjanjian Baru Tuhan Yesus pun mengingatkan dan mengajarkan cara berpuasa yang baik. Ia sendiri menyaksikan bagaimana orang pada zaman-Nya berpuasa hanya sekedar menepati kewajiban, dan penuh kepura-puraan. Mereka menekankan yang lahiriah dan yang tidak berdampak pada perubahan sikap hidup. Hal itu dapat kita lihat dalam Injil Matius: “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu" (Mat. 6: 16-18).

 Jelas sekali kepada siapa Tuhan mengalamatkan pesan-Nya itu. Dia mengalamatkannya kepada “kamu” yang tidak lain daripada kita semua. Yesus sendiri juga telah memberikan teladan bagaimana berpuasa dengan benar dan baik. Dia pergi menyendiri agar tetap dekat dengan Bapa-Nya di surga. Dia sendiri berdoa, berpuasa dan melakukan mati raga serta menaklukkan diri-Nya seutuhnya kepada kehendak Bapa dan hanya taat kepada-Nya saja.

 Saudara-saudari yang terkasih,

Masa Prapaskah sebenarnya merupakan ziarah pertobatan bersama seluruh umat Allah. Hal ini juga merupakan kesempatan bagi Gereja untuk menyampaikan pesan-pesan yang diharapkan menjadi bahan renungan dan keprihatinan bersama. Pada tahun 2007 yang lalu Gereja Indonesia mengingatkan kita akan pentingnya solidaritas dan upaya bersama menuju kesejahteraan ekonomi. Karena itu yang menjadi tema APP pada tahun itu adalah: pemberdayaan kesejatian hidup dalam hubungan sosial. Sedangkan pada tahun 2008 ini APP Nasional berbunyi: kesejatian hidup dalam pemberdayaan lingkungan. Dalam APP tahun ini lingkungan hidup dan alam ciptaan Tuhan hendaknya menjadi pokok perhatian dan kepedulian kita semua. Alasannya ialah karena manusia dewasa ini mengalami begitu banyak masalah yang mengganggu hidup yang disebabkan oleh bencana alam. Nampaknya alam menjadi “marah” dan menjadi “musuh manusia”. Mengapa? Karena manusia, yakni kita semua, tidak lagi menghargai dan menghormati alam ciptaan Tuhan dan melihatnya sebagai sahabat, malahan sebaliknya manusia, sekali lagi kita semua, merusakkan dan menghancurkannya. Karena itu ada baiknya pada  Masa Puasa kali ini seluruh umat juga mengarahkan refleksinya pada alam ciptaan. Kita perlu belajar untuk hidup harmonis dengan  alam. Dan hal itu kita lakukan dengan mengelola, memanfaatkan, memelihara, dan melestarikannya secara bertanggung jawab.  Marilah kita semua menjadi pelaku perubahan dan memiliki kesadaran iman untuk menerima sumber daya alam sebagai karunia dari Tuhan. Dan hendaknya karunia itu diterima dengan penuh rasa syukur dan terima kasih.

 Umat Allah yang terkasih,

Selama tiga tahun terakhir kita semua mengadakan refleksi dan studi bersama mengenai keadaan dan perkembangan umat di Keuskupan Bogor. Refleksi dan studi bersama itu diakhiri dengan Temu-Pastoral (Tepas) bulan Oktober 2007 lalu. Temu Pastoral itu menghasilkan sejumlah Kebijakan Pastoral yang merupakan “pekerjaan rumah” yang tidak kecil bagi kita semua. Temu Pastoral itu mengajak kita untuk selalu memperbaharui tekad membangun Keuskupan Bogor di segala bidang. Semoga semangat pertobatan dan pembaharuan diri kita selama Masa Prapaskah ini dapat menjadi bekal  dan sumbangan kita untuk membangun Keuskupan Bogor secara lebih baik.

 Demikianlah Surat Gembala ini kami sampaikan kepada seluruh umat. Kami berharap agar pesan ini dapat menjadi bahan refleksi dan titik awal menuju pertobatan kita bersama. Marilah kita “berjalan bersama” dan turut menyukseskan upaya pertobatan bersama ini melalui doa, mati raga dan karya amal-kasih. Semoga Tuhan menyertai Anda menuju hari Kebangkitan Kristus dan kebangkitan kita bersama. Amin

 



Dikeluarkan di Bogor, 2 Februari 2008
Pada Pesta Yesus Dipersembahkan dalam Bait Allah



Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM
Uskup Bogor
 

 

 


KETENTUAN PUASA DAN PANTANG



1. KETENTUAN
Sesuai dengan Kitab Hukum Kanonik kanon 1249 bahwa semua umat beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat demi hukum ilahi; tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari-hari tobat, dimana umat beriman kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk doa, menjalankan karya kesalehan dan amal kasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang menurut norma kanon-kanon berikut :

Kanon 1250 – Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap hari Jumat sepanjang tahun, dan juga masa prapaskah.

Kanon 1251 – Pantang makan daging atau makan lain menurut ketentuan Konferensi Para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus.

Kanon 1252 – Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orang tua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.

2. PETUNJUK

a. Masa Prapaskah Tahun 2008 sebagai hari tobat berlangsung mulai
  hari Rabu Abu, tanggal 6 Februari 2008 sampai dengan Jumat Agung, tanggal 21 Maret 2008
b. Pantang berarti tidak makan makanan tertentu yang menjadi
  kesukaannya dan juga tidak melakukan kebiasaan buruk, misalnya: marah, boros, dsb. Dan lebih mengutamakan dan memperbanyak perbuatan baik bagi sesama.
c. Puasa berarti makan kenyang tidak lebih dari satu kali dalam sehari
   

3. CARA MEWUJUDKAN PERTOBATAN

a. Doa
  Selama masa Prapaskah hendaknya menjadi hari-hari istimewa untuk meningkatkan semangat berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan dengan tekun mendengarkan dan merenungkan sabda Tuhan serta melaksanakannya dengan setia.
b. Karya amal kasih
  Pantang dan puasa selayaknya dilanjutkan dengan perbuatan amal kasih yakni membantu sesama yang menderita dan berkekurangan. Kami mengajak Anda sekalian untuk melakukan aksi nyata amal kasih baik pribadi maupun bersama-sama di lingkungan maupun wilayah.
 
c. Penyangkalan diri
  Dengan berpantang dan berpuasa sesungguhnya kita meneladan Kristus yang rela menderita demi keselamatan kita. Kita mengatur kembali pola hidup dan tingkah laku sehari-hari agar semakin menyerupai Kristus.



4. HIMBAUAN
Selama masa Prapaskah, apabila akan melangsungkan perkawinan hendaknya memperhatikan masa tobat. Dalam keadaan terpaksa seyogyanya pesta dan keramaian ditunda.




Ditetapkan di Bogor
Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah
Tanggal 2 Februari 2008






Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM
Uskup Bogor